Psychology Creative Forum

Teori Teori Psikologi Perkembangan

Posted by: mypsycif08 on: December 27, 2008

Teori teori Psikologi Perkembangan

(Published by yoga sukmawijaya )

Teori-teori Psikologi Perkembangan

Sejumlah ide yg koheren, mengandung hipotesis-hipotesis dan asumsi-asumsi yg dpt diuji kebenarannya, dan berfungsi untuk menggambarkan, menjelaskan, dan memprediksi perubahan-perubahan perilaku dan proses mental manusia sepanjang rentang kehidupannya.

Teori-teori Biologis

a Menekankan faktor Nature sebagai penentu perkembangan manusia: maturitas, dasar-dasar biologis perilaku-proses mental

a Dipengaruhi pemikiran Charles Darwin-perspektif evolusioner

1. Teori-teori Maturasional

a Tokoh: Arnold Gessel

a Asumsi:

a. perkembangan diarahkan dr dalam-maturasi biologis: berjalan, berbicara, kontrol diri

b. self regulation: organisme memiliki kesiapan utk memasuki tahap perkembangan tertentu—memberi sinyal kpd lingkungannya

2. Teori-teori Etologis

a Tokoh: Konrad Lorenz, Niko Tinbergen, John Bowlby

a Asumsi:

a. perkembangan manusia sebagai bagian dr historis evolusioner; cara-cara yg memungkinkan manusia survive

b. releasing stimuli: menangis, senyuman

c. sumbangan: metode observasi dlm setting alamiah

TEORI-TEORI PSIKODINAMIKA

§ perkembangan manusia sebagai hasil dr proses konfrontasi dan akomodasi antara pertumbuhan individual dan tuntutan sosial, antara dorongan dasar manusia dan tuntutan masyarakat

§ memusatkan perhatian pd perkembangan kepribadian-perkembangan perasaan, keyakinan, dan perilaku yg rasional maupun tidak rasional.

1. Teori Psikoseksual/Psikoanalisa

§ Tokoh: Sigmund Freud

§ Asumsi:

a. perilaku dan proses mental manusia dimotivasi oleh kekuatan-kekuatan dan konflik-konflik dr dalam—manusia memiliki sedikit kesadaran & kontrol atas kekuatan tsbà perilaku manusia mjd lebih rasional-bisa diterima secara sosial

b. libido seksual mengikuti hukum kekekalan energi

c. perkembangan kepribadian manusia:

§ Aspek Kepribadian Manusia

Id

Ego

Super Ego

Pleasure principle

Reality principle

Moral principle/the consciencce

Primary process thinking

Wishfulthinking

Secondary process thinking / reality testing

Internalized parenta/social rules and valuesà guilty feeling

§ Tahapan Perkembangan Kepribadian

Usia

Tahap Psikoseksual

Fokus Perasaan Senang

Karakteristik Perilaku

Hasil yang tidak diharapkan (fiksasi)

Lahir-18 bulan

Oral

Mulut, Bibir

Mencari stimulasi oral, menghisap meski tidak lapar

Alkoholisme, merokok, menggigit kuku, tidak matang, kepribadian menuntut

18 bln —3 tahun

Anal

Rektum

Menikmati saat mengeluarkan dan menahan feses

Konformisme tinggi, kerapian kompulsive, permusuhan, kepribadian menantang

3—6 tahun

Phalik

Genital

Tertarik genital, jatuh cinta pada orangtua dengan jenis kelamin berbeda

Problem seksual (impoten, frigiditas), homoseksual, ketidakmampuan menangani kompetisi

6—11 tahun

Latensi

Mengembangkan kecakapan sosial dan intelektual

Pubertasà

Genital

Genital

Membangun hubungan dengan lawan jenis

§ Mekanisme Pertahanan Ego

1. Represi: menekan hal yg tidak menyenangkan ke alam bawah sadar–melupakan

2. Regresi: mundur ke masa lalu–bertingkah laku seperti anak kecil

3. Rasionalisasi: membuat pembenaran alasan yg tampak logis atas hal yang tidak menyenangkan

4. Proyeksi: melemparkan penyebab yang tidak menyenangkan pada orang lain / di luar diri

5. Reaksi formasi: menunjukkan reaksi kebalikan dari reaksi yang sesungguhnya

6. Sublimasi/Displacement: mengalihkan pada saluran yang lain

§ Kritikan:

a Kesulitan menguji secara empirik–menilai secara objektifàkarena konsep-konsepnya ambigous: bagaimana mengukur konsep libido, struktur kepribadian secara langsung?

a Restrospektif, tidak prediktif

a Androsentrik

a Teorinya didasarkan pada observasi terhadap orang-orang tertentu (penderita neurotik)

§ Kontribusi:

a Pengalaman awal mempengaruhi perkembangan kepribadian berikutnya

a Motivasi yg tidak disadari/ketidaksadaran mempengaruhi perilaku-proses mental manusia

a Mekanisme pertahanan ego

2. Teori Psikososial

§ Tokoh: Erik H.Erikson

§ Asumsi:

a. perkembangan kepribadian manusia terjadi sepanjang rentang kehidupan

b. perkembangan kepribadian manusia dipengaruhi oleh interaksi sosial—hubungan dgn orang lain

c. perkembangan kepribadian manusia ditentukan oleh keberhasilan atau kegagalan seseorang mengatasi krisis yang terjadi pd setiap tahapan sepanjang rentang kehidupan.

Stadium

Krisis Psikososial

Hasil yang baik

Infancy

Kepercayaan vs Ketidakpercayaan

Kepercayaan dan optimisme

Toddlerhood

Otonomi vs Keraguan

Pengendalian dan adekuasi diri

Early Childhood

Inisiatif vs Rasa Bersalah

Kemampuan memulai aktivitas sendiri

Middle & Late Childhood

Industri vs Inferioritas

Kompetensi dalam kemampuan intelektual. Sosial dan fisik

Remaja

Identitas vs Kebingungan Identitas

Citra diri yang terintegrasi sebagai pribadi unik

Dewasa awal

Intimasi vs Isolasi

Kemampuan membentuk hubungan erat, komitmen karier

Dewasa madya

Generativitas vs Menarik diri

Perhatian terhadap keluarga, masy & generasi pen.

Dewasa akhir

Integritas vs Putus Asa

Puas dengan kehidupan, siap menghadapi kematian

Teori-teori Belajar

§ Perkembangan lebih ditentukan oleh faktor lingkungan-pengalaman, belajar

§ Perkembangan sebagai proses kontinyu-perubahan terjadi secara gradual, berangsur-angsur, sedikit demi sedikit

1. Teori-teori Kondisioning

a. Teori Kondisioning Klasik

§ Tokoh: Ivan Pavlov, John B. Watson

§ Asumsi:

(1) Perkembangan sebagai hasil belajar—asosiasi temporal antara dua peristiwa yang terjadi secara simultan

(2) Konsep: Stimulus Alamiah, Respon Alamiah, Stimulus Bersyarat, Respon Bersyarat, Generalisasi, Diskriminasi, Extinction.

b. Teori Kondisioning Operan/Instrumental

§ Tokoh: B.F. Skinner

§ Asumsi:

(1) Perkembangan ditentukan oleh reinforcement

(2) Konsep: Reinforcement (+/-), Reward & Punishment

2. Teori-teori Belajar Sosial Kognitif

§ Tokoh: Albert Bandura

§ Asumsi:

(1) Perkembangan manusia ditentukan oleh interaksi dinamis antara personal, perilaku, dan lingkungan

Behavior


Personal Environmental

(Cognitive, Affective, and Biological Events)

Triadic Reciprocity

(2) People are viewed as self-organizing, proactive, self-reflecting, and self-regulating rather than as reactive organism shaped by by environmental forces or driven by concealed inner forces

(3) Human fundamental capabilities

a. Individuals have the capability to symbolize. By symbolizing their experience, people give structure, meaning, continuity to their lives

b. Individuals have the capability to learn from others. Observatiobal learning, Modeling, Imitation. Observational learning is governed by four component subfunctions: Attention, Retention, Production, Motivation

c. Individuals have the capability to plan alternative strategies-forethought

d. Individuals have the capabilty to regulate their own behavior-internal self-regulation. Subfunctions of self-regulation are Self Observation (self monitoring), Performance Judgement (referential comparisons), Self Reaction (self satisfaction, self worth, distress)

e. Individuals have the capability to self reflect-self efficacy

1. Teori Perkembangan Kognitif Piaget

q Tokoh: Jean Piaget

q Asumsi:

a. Interaksi antara maturitas alami dengan belajar-lingkungan

b. Anak sebagai organisme aktif dalam proses perkembangan

c. Skemata (Skema)à Asimilasi: menurut skema

à Akomodasi: modifikasi skema

Stadium

Karakteristik

Sensorimotorik

(lahir-2 tahun)

q Diferensiasi diri dari objek

q Mengenali diri sebagai pelaku suatu tindakan

q Permanensi objek

Praoperasional

(2-7 tahun)

q Belajar menggunakan bahasa-merepresentasikan objek dengan citra dan kata-kata

q Berpikir egosentrik

q Klasifikasi objek dengan ciri tunggal

Operasional Konkrit

(7-11 tahun)

q Berpikir secara logis tentang objek dan peristiwa yang nyata

q Konservasi

q Klasifikasi objek dengan beberapa ciri; Seriasi

Operasional Formal

(11 tahun ke atas)

q Berpikir secara logis tentang masalah abstrak dan menguji hipotesis secara sistematik

q Memperhatikan masalah hipotetik, masa depan, ideologi

Teori-teori Kognitif

2. Teori Relasi Teman Sebaya

§ Tokoh: Robert Selman

§ Asumsi:

1. Kompetensi sosial anak-anak dalam relasi teman sebaya tergantung kapabilitas untuk membedakan dan mengintegrasikan perspektif yang dimiliki dengan perspektif orang lain

2. Perkembangan relasi anak dengan teman sebaya melalui 4 tahapan, yaitu

Perode

Karakteristik

Contoh

Impulsif (Prasekolah)

Belum mampu membedakan perspektif (pikiran, perasan, perilaku) orang lain dengan perspektif dirinya

Konflik dipecahkan melalui

§ Kekuatan scr impulsif: berkelahi, memukul, merebut

§ Menarik diri: sembunyi, berlari, merengek

Unilateral (4-9 Tahun)

Mengetahui adanya perbedaan perspektif antara dirinya dengan orang lain, tetapi belum mampu mempertimbangkannya secara simultan perspektif tersebut

Mengatasi konflik dengan

§ Mengontrol orang lain: memerintah, mengganggu

§ Menyerah secara pasif pd orang lain: menaati, mengalah

Resiprokal

(6-12 tahun)

Mampu melepaskan perspektif dirinya dan mengambil perspektif orang lain ke dlm pemikiran dan tindakannya; mampu mengapresiasi kedua sudut pandang

Konflik dipecahkan melalui

§ Membujuk orang lain utk melakukan sesuatu sesuai keinginannnya

§ Menyetujui sambil menemukan titik temu

Kolaboratif

(9-15 Tahun)

Melihat diri sebagai pelaku dan objek, mampu mengintegrasikan perspektif dirinya dengan perspektif orang lain

Mengatasi konflik dengan

§ Bekerjasama dengan orang lain untuk menyesuaikan kepentingan masing2 shg menguntukngkan kedua pihak

PERBEDAAN PENDEKATAN KONSELING

PSIKOANALISIS, HUMANISTIK & BEHAVIORISME

(DEFFERENCIAL PSYCHOTHERAPY APPROACHABLE

PSYCHOANALYSIS, HUMANISTIK & BEHAVIORISME)

(Published by yoga sukmawijaya)

PRODI PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

1. Pendekatan konseling dengan paradigma psikoanalisis

Konsep

Sepenuhnya konsep mengenai manusia aliran ini menganggap manusia adalah makhluk yang membawa potensi negatif, maka dari itu aliran ini sering juga disebut aliran pesimistik. Psikoanalisis mengungkapkan bahwa manusia memiliki struktur personality yang terdiri dari 3 aspek “mind appartus” yaitu : id, ego dan superego. Id adalah dorongan tak sadar yang bersipat biologis diantaranya nafsu seks, keinginan dekstruktif dan insting. Berlawanan dengan id, superego ialah hal-hal yang bersipat nilai, moral atau norma. Kedua hal ini, yang sering menimbulkan konflik psikis dalam diri manusia antara pleasure principle dengan real principle. Maka ego hadir sebagai penengah diantara id dan superego. Namun terkadang (kebanyakan) superego terlalu menekan pada seorang individu makanya ia akan melakukan self defense of mechanism yang berarti pertahanan individu terhadap kondisi luar yang berusaha menekan keinginan primitifnya agar tidak menyebabkan kecemasan pada diri individu. Macam-macam self defense of mechanism diantaranya : denial, repression, reaction formation, sublimation and projection.

Tujuan Konseling

Tujuan dari pendekatan psikoanalisis adalah membentuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari didalam diri klien. atau mengetahui atau mengungkap hal-hal yang menyakitkan yang ditekan jauh dalam alam bawah sadarnya.

Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam interpretasi yang jelas : (a) konselor harus menginterpretasikan hasil dari proses konseling; (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut; (c) klien dapat mengeluarkan hal-hal yang menyakitkan yang berada dalam alam bawah sadarnya.

Deskripsi Proses Konseling

Proses konseling menelusuri masa lalu terutama masa dengan dirunut perkembangan seksualnya untuk mencari sumber masalah yang diyakini ditekan dan berada dibawah sadarnya.

Konselor :

  1. Menafsirkan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak
  2. Merumuskan sifat sesungguhnya dari masalah-masalah klien.
  3. Memegang penuh tanggung jawab atas kegiatan konseling, khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling
  4. Mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya.

Prinsip Kerja Teknik Konseling Psikoanalisis

1. Menelusuri riwayat masa lampau klien

2. Memberikan sarana klien memproyeksikan masalahnya

3. Memberikan penafsiran terhadap proyeksi, asisosiasi dan mimpi kepada klient

4. Membiarkan atau memerintahkan klien untuk mengeluarkan emosi negatifnya untuk direalisasikan atau diekspresikan.

Teknik-teknik Konseling Psikoanalisis

1. Asosiasi bebas.

Yaitu metode pengambilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi. dengan cara konselor mestimulan sebuah kata kemudian klien yang telah berbaring pada kursi panjang diminta untuk mengungkapkan isi pikirannya yang terkait dengan kata yang diungkapkan oleh konselor.

2. Penafsiran

Adalah suatu prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi resistensi-resistensi dan transreferensi-transreferensi. Prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan analis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanipestasikan.

2. Pendekatan konseling dengan paradigma Psikologi Humanistik

Konsep Dasar

Pada pendekatan-pendekatan awal ditemukan teori perkembangan dari Abraham Maslow, yang menekankan pada hirarki kebutuhan dan motivasi, psikologi eksistensial dari Rollo May yang mempelajari pilihan-pilihan manusia dan aspek tragis dari keksistensian manusia, dan terapi person-centered atau client-centered dari Carl Rogers, yang memusatkan seputar kemampuan klien untuk mengarahkan diri sendiri (self-direction) dan memahami perkembangan diri sendiri. Psikologi humanistik cenderung untuk melihat melebihi model medikal dari psikologi dengan tujuan membuka pandangan non-patologis dari seseorang. Kunci dari pendekatan ini adalah pertemuan antara terapis dan klien dan adanya kemungkinan untuk berdialog. Hal ini seringkali berimplikasi terapis menyingkirkan aspek patologis dan lebih menekankan pada “aspek sehat” dari seseorang.

Tujuan Konseling

Tujuan dari kebanyakan terapi humanistik adalah untuk membantu klien mendekati perasaan yang lebih kuat dan lebih sehat terhadap diri sendiri, yang biasa disebut self-actualization dalam Semua ini adalah bagian dari motivasi psikolgi humanistik untuk menjadi ilmu dari pengalaman manusia, yang memfokuskan pada pengalaman hidup nyata dari seseorang (Aanstoos, Serlin & Greening)

Deskripsi Proses Konseling

Proses konseling adalah membantu klien aga menyadari keberadaannya dan potensinya dalam dunia menurut may (dalam teori dan praktek konseling dan psikoterapi, 1961)

Prinsip Kerja Teknik Konseling humanistik

1. Membina hubungan baik (good rapport)

2. Membuat klien bisa menerima dirinya dengan segala potensi dan keterbatasannya

3. Merangsang kepekaan emosi klien

4. Membuat klien bisa mencari solusi permasalahannya sendiri.

5. Mengembangkan potensi dan emosi positif klien

6. Membuat klien menjadi adequate

Teknik-teknik Konseling Humanistik

Client centre or Person center ( unconditional positive regard and emphaty)

Adalah metode penanaman pemahaman masalah klien sendiri sehingga dirinya dapat menerima dirinya sepenuhnya dan menjadi seorangan yang adequate. Untuk mencapai itu konselor hanya menerima apa yang diucapkan oleh klien dan merespon dengan sikap positif dan ekspesif atau emphatik, dan memberikan penghargaan tak bersarat pada klien. Maka, jelas pada pendekatan ini yang lebih aktif adalah klien. Karena konselor hanya sebagai cermin, tempatnya merefleksikan dan melihat proyeksi diri.

3. Pendekatan konseling dengan paradigma Psikologi Behaviorism

Konsep Dasar

Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.

Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya.Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum belajar : (a) pembiasaan klasik; (b) pembiasaan operan; (c) peniruan. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya.Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku.

Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik, (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling, (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien, dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling.

Tujuan Konseling

Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien.

Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien; (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut; (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut; (d) dirumuskan secara spesifik.Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling.

Deskripsi Proses Konseling

Proses konseling adalah proses belajar, konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut.

Konselor aktif :

1. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak

2. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling, khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling

3. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya.

Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk.

Prinsip Kerja Teknik Konseling Behaviorism

  • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien.
  • Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan.
  • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan.
  • Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film, tape recorder, atau contoh nyata langsung).
  • Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial.

Teknik-teknik Konseling Behaviorism

Latihan Asertif

Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini.

Desensitisasi Sistematis

Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan.

Pengkondisian Aversi

Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut.

Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.

Pembentukan Tingkah laku Model

Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien, dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial.