Ironi Kampus UIN SUKA

Posted: September 5, 2008 in Riset Report
Tag:,

Sebuah Ironi Kampus

Oleh Yoga Sukmawijaya*

Sore itu, Rabu jam 13.00 ketika menghadiri kuliah pengukuran skala sikap. Rasa terkejut ketika sang dosen menanyai teman-teman, mengenai alasan masuk ke psikologi UIN Suka. Yang membuat terkejut bukanlah mengapa dosen itu menanyai mahasiswa, akan tetapi alasan teman-teman di psikologi UIN Suka mayoritas mengungkapkan bahwa mereka terpaksa masuk ke UIN Suka, dengan alasan yang bermacam-macam tentunya. Ironis bukan, ternyata mahasiswa psikologi UIN dipenuhi orang-orang menjalani kehidupan dengan keterpaksaan!. Tak heran jika kuliah dijadikan formalitas hanya untuk meninggikan status sosialnya, efeknya yaitu matinya proses pembelajaran sehingga jika berada dikelas kuliah sama halnya dengan masuk dikelas TK (taman kanak-kanak) dimana dosen bukan lagi menjadi fasilitator, melaikan sebagai sumber information and knowledge satu-satunya dikelas. Diskusi pun terasa seperti menonton wayang, sepi dan hambar.

Melihat kondisi seperti ini, membuat penulis gerah. Ditengah-tengah persaingan antar perguruan tinggi yang ketat, Universitas ber-labelkan islam negeri ini malah sibuk dengan visi yang belum jelas (unggul dan terkemuka), kurikulum yang tidak matang (tiap angkatan berbeda) dan sistem pembelajaran yang kuno (Diskusi hambar! Ceramah alias monolog). Bahkan Proyektor (LCD) ajah berebut!!!. Sungguh ironis, apalagi bila kita lihat jauh kedalam. Sebagai contoh Integrasi dan Interkoneksi antara science barat dan khazanah ilmu Islam sungguh jauh dari yang dibayangkan, integrasi dan interkoneksi hanyalah selogan transformasi IAIN ke UIN. Bahkan lebih parahnya lagi, sebagian dosen malah tidak memahami konsep Integrasi dan Interkonesi itu sendiri. Bagaimana mahasiswa mau mengerti jika para dosennya tidak memberikan pemahaman tentang hal ini?

Awal ajaran baru menjadi saksi meningkatnya mahasiswa yang dengan terpaksa masuk ke psikologi UIN suka. Sampai-sampai Psikologi UIN Suka membuka menjadi 3 kelas (A,B,C) fantastis..!!! bukan. Ada kesan memaksakan yang penulis tangkap. Hal itu terlihat jadwal yang amburasut alias absurd, sistem registrasi yang absurd juga, penulis merasakan sendiri menunggu print-out hampir 2jam lebih. Diskusi pun pernah dilakukan oleh penulis sekadar ingin mengetahui pandangan dosen mengenai hal ini. “Sebenaranya paradosen kurang setuju, psikologi membuka sampai 3 kelas. Ini adalah kesalahan rekruitment dari pihak rektorat” itulah kalimat pertama yang diucapkan oleh sang dosen xxx (sensor).

Mahasiswa oportunis dan borjouis tak mau tahu dengan permasalahan kampus bahkan masalah keilmuan (knowledge) mereka “Blank” yang mereka tahu adalah bagaimana mereka bisa keren (baju distro, cenala distro + kaca mata bookworm) alias gaul dikampus walau terkadang terlihat norak..! tak heran jika kita memasuki areal UIN Suka sulit dibedakan yang mana “Kampus” yang mana “Mall”. Rambut mode Emo+Dicat+celana Sobek (disengaja) ialah hal yang sering terlihat diUIN, yang lebih parah pakaian para mahasiswi yaitu Jilbab modis, celana ketat,baju ketat (kurang bahan ya kasihan) menjadi NewCulture after Transformation. Sekiranya pengetahuan dan pemahaman tentang konsep kebebasan berekspresi tidak lagi dipahami secara kontekstual. Apakah ini era baru kampusku? Apakah ini masa akan jadi era darkness atau aufklarung?

Tulisan ini adalah sebuah kegundahan hati yang selama ini dirasa mengendap bertahun-tahun, hadir dari jiwa yang ingin perubahan progress yang signifikan. Setidaknya kita bisa jujur terhadapt realita yang terjadi memerihkan mata ini, membangunkan nafs mutmainnah dan menggerakan segenap organ yang memihak kepada kebenaran realitas dengan bingkan idealisme ditopan pondasi ideologi yang kokoh. Kritik dan kebebasan bersuara merupakan jaminan jalannya sebuah demokrasi, semoga menjadi bahan renungan bagi teman-teman yang terbutakan peradaban, terhanyut globalisasi dan terkukung oleh pragmatisasi. Dan bagi dosen-dosen yang terpenjara oleh sistem, terbuai oleh jabatan dan terpusingkan oleh setumpuk agenda sampah. Mari bangun kampus ini dengan “Cinta” dan “Idealisme Intelektual”.

(penulis adalah mahasiswa psikologi UIN Suka semester 06)

Komentar
  1. gw setuju, gut!! gw dukung dari tempat yang paling jauuuuhh…….

  2. Richard mengatakan:

    ya…emang begitulah adanya UIN YK sekarang,,mereka lebih nunjukin polesan lipstik merahnya ketika diluar ketimbang mempercantik isi dalemnya. meskipun perbaikan telah diupayakan, namun semua butuh kesadaran yang sedalam-dalamnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s