PERBEDAAN PENDEKATAN KONSELING PSIKOANALISIS, HUMANISTIK & BEHAVIORISME

Posted: Desember 27, 2008 in Psychology Hotnews

PERBEDAAN PENDEKATAN KONSELING

PSIKOANALISIS, HUMANISTIK & BEHAVIORISME

(DEFFERENCIAL PSYCHOTHERAPY APPROACHABLE

PSYCHOANALYSIS, HUMANISTIK & BEHAVIORISME)

(Published by yoga sukmawijaya)

PRODI PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

1. Pendekatan konseling dengan paradigma psikoanalisis

Konsep

Sepenuhnya konsep mengenai manusia aliran ini menganggap manusia adalah makhluk yang membawa potensi negatif, maka dari itu aliran ini sering juga disebut aliran pesimistik. Psikoanalisis mengungkapkan bahwa manusia memiliki struktur personality yang terdiri dari 3 aspek “mind appartus” yaitu : id, ego dan superego. Id adalah dorongan tak sadar yang bersipat biologis diantaranya nafsu seks, keinginan dekstruktif dan insting. Berlawanan dengan id, superego ialah hal-hal yang bersipat nilai, moral atau norma. Kedua hal ini, yang sering menimbulkan konflik psikis dalam diri manusia antara pleasure principle dengan real principle. Maka ego hadir sebagai penengah diantara id dan superego. Namun terkadang (kebanyakan) superego terlalu menekan pada seorang individu makanya ia akan melakukan self defense of mechanism yang berarti pertahanan individu terhadap kondisi luar yang berusaha menekan keinginan primitifnya agar tidak menyebabkan kecemasan pada diri individu. Macam-macam self defense of mechanism diantaranya : denial, repression, reaction formation, sublimation and projection.

Tujuan Konseling

Tujuan dari pendekatan psikoanalisis adalah membentuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari didalam diri klien. atau mengetahui atau mengungkap hal-hal yang menyakitkan yang ditekan jauh dalam alam bawah sadarnya.

Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam interpretasi yang jelas : (a) konselor harus menginterpretasikan hasil dari proses konseling; (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut; (c) klien dapat mengeluarkan hal-hal yang menyakitkan yang berada dalam alam bawah sadarnya.

Deskripsi Proses Konseling

Proses konseling menelusuri masa lalu terutama masa dengan dirunut perkembangan seksualnya untuk mencari sumber masalah yang diyakini ditekan dan berada dibawah sadarnya.

Konselor :

  1. Menafsirkan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak
  2. Merumuskan sifat sesungguhnya dari masalah-masalah klien.
  3. Memegang penuh tanggung jawab atas kegiatan konseling, khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling
  4. Mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya.

Prinsip Kerja Teknik Konseling Psikoanalisis

1. Menelusuri riwayat masa lampau klien

2. Memberikan sarana klien memproyeksikan masalahnya

3. Memberikan penafsiran terhadap proyeksi, asisosiasi dan mimpi kepada klient

4. Membiarkan atau memerintahkan klien untuk mengeluarkan emosi negatifnya untuk direalisasikan atau diekspresikan.

Teknik-teknik Konseling Psikoanalisis

1. Asosiasi bebas.

Yaitu metode pengambilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi. dengan cara konselor mestimulan sebuah kata kemudian klien yang telah berbaring pada kursi panjang diminta untuk mengungkapkan isi pikirannya yang terkait dengan kata yang diungkapkan oleh konselor.

2. Penafsiran

Adalah suatu prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi resistensi-resistensi dan transreferensi-transreferensi. Prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan analis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanipestasikan.

2. Pendekatan konseling dengan paradigma Psikologi Humanistik

Konsep Dasar

Pada pendekatan-pendekatan awal ditemukan teori perkembangan dari Abraham Maslow, yang menekankan pada hirarki kebutuhan dan motivasi, psikologi eksistensial dari Rollo May yang mempelajari pilihan-pilihan manusia dan aspek tragis dari keksistensian manusia, dan terapi person-centered atau client-centered dari Carl Rogers, yang memusatkan seputar kemampuan klien untuk mengarahkan diri sendiri (self-direction) dan memahami perkembangan diri sendiri. Psikologi humanistik cenderung untuk melihat melebihi model medikal dari psikologi dengan tujuan membuka pandangan non-patologis dari seseorang. Kunci dari pendekatan ini adalah pertemuan antara terapis dan klien dan adanya kemungkinan untuk berdialog. Hal ini seringkali berimplikasi terapis menyingkirkan aspek patologis dan lebih menekankan pada “aspek sehat” dari seseorang.

Tujuan Konseling

Tujuan dari kebanyakan terapi humanistik adalah untuk membantu klien mendekati perasaan yang lebih kuat dan lebih sehat terhadap diri sendiri, yang biasa disebut self-actualization dalam Semua ini adalah bagian dari motivasi psikolgi humanistik untuk menjadi ilmu dari pengalaman manusia, yang memfokuskan pada pengalaman hidup nyata dari seseorang (Aanstoos, Serlin & Greening)

Deskripsi Proses Konseling

Proses konseling adalah membantu klien aga menyadari keberadaannya dan potensinya dalam dunia menurut may (dalam teori dan praktek konseling dan psikoterapi, 1961)

Prinsip Kerja Teknik Konseling humanistik

1. Membina hubungan baik (good rapport)

2. Membuat klien bisa menerima dirinya dengan segala potensi dan keterbatasannya

3. Merangsang kepekaan emosi klien

4. Membuat klien bisa mencari solusi permasalahannya sendiri.

5. Mengembangkan potensi dan emosi positif klien

6. Membuat klien menjadi adequate

Teknik-teknik Konseling Humanistik

Client centre or Person center ( unconditional positive regard and emphaty)

Adalah metode penanaman pemahaman masalah klien sendiri sehingga dirinya dapat menerima dirinya sepenuhnya dan menjadi seorangan yang adequate. Untuk mencapai itu konselor hanya menerima apa yang diucapkan oleh klien dan merespon dengan sikap positif dan ekspesif atau emphatik, dan memberikan penghargaan tak bersarat pada klien. Maka, jelas pada pendekatan ini yang lebih aktif adalah klien. Karena konselor hanya sebagai cermin, tempatnya merefleksikan dan melihat proyeksi diri.

3. Pendekatan konseling dengan paradigma Psikologi Behaviorism

Konsep Dasar

Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.

Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya.Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum belajar : (a) pembiasaan klasik; (b) pembiasaan operan; (c) peniruan. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya.Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku.

Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik, (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling, (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien, dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling.

Tujuan Konseling

Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien.

Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien; (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut; (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut; (d) dirumuskan secara spesifik.Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling.

Deskripsi Proses Konseling

Proses konseling adalah proses belajar, konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut.

Konselor aktif :

1. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak

2. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling, khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling

3. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya.

Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk.

Prinsip Kerja Teknik Konseling Behaviorism

  • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien.
  • Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan.
  • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan.
  • Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film, tape recorder, atau contoh nyata langsung).
  • Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial.

Teknik-teknik Konseling Behaviorism

Latihan Asertif

Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini.

Desensitisasi Sistematis

Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan.

Pengkondisian Aversi

Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut.

Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.

Pembentukan Tingkah laku Model

Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien, dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s